Kepala Tikus dan Suara dari Pohon

sumber gambar: http://archive.rimanews.com


Kepala Tikus dan Suara dari Pohon
Cerpen Andrian Eksa

Pagi itu Tikus terbangun dari tidurnya. Ia mengucek mata dan merapikan rambutnya yang gondrong, karena tak sempat pergi ke salon. Lalu ke kamar mandi. Seperti biasanya, ia mencuci muka dan gosok gigi. Tidak perlu mandi, sebab pakai parfum saja sudah cukup. Toh, tidak akan ada yang tahu. Mandi atau tidak mandi, hanya dihitung dari bau tubuh. Kalau sudah pakai parfum mahal dan wangi, tidak akan ada yang curiga.
Pergi ke dapur. Membuat kopi hitam. Sambil mengaduk, ia berjalan ke beranda rumah. Menaruh kopi di atas meja. Lalu, berjalan beberapa langkah ke depan rumah, mengambil koran. Duduk memakai kacamata, membaca koran, sesekali ia meneguk kopinya. Begitulah ia biasa menjalani hidupnya.
“Dasar goblok! Korupsi segitu saja ketahuan. Pasti hanya lulusan S1. Atau mungkin hanya lulusan SMA.” Ia tertawa. Giginya yang satu biji sudah diganti dengan emas, berkilau tertimpa cahaya matahari, pagi itu.
“Ini risikonya kalau tidak bisa menjaga sikap. Terlalu tergesa-gesa memasukkannya ke dalam kantong. Seharusnya, mencari jaringan dulu, siapa saja yang bisa diajak bekerja sama. Begitu saja kok tidak bisa. Dasar!”
Ia terus membaca. Minum kopi. Menggerutu. Dan seterusnya seperti itu. Hingga hampir malam, ia tetap membaca koran itu. Masih di halaman pertama. Berita tentang Kepala Desa yang korupsi, tertangkap KPK.

Malam hari. Tikus masih membaca koran itu. Menggerutu. Tapi, tidak lagi minum kopi, di gelas sudah tinggal ampas.
Tiba-tiba ia bangkit dari duduknya. Masuk ke dalam rumah. Ke dalam kamar. Ada istrinya di sana. Tikus menghampiri istri. Mengecup pipi kanan dan kiri.
“Sayang, aku sudah menuruti semua kemauanmu. Beli segala macam yang kamu mau. Termasuk, menebangi pohon-pohon di Kalimantan itu, aku penuhi. Entah kayu dari pohon itu kamu gunakan untuk apa. Kamu hanya bilang, untuk rumah anak kita. Tapi, sampai hari ini, kamu belum melahirkan satu anak pun untukku.” Ia bicara pelan sekali, istrinya mengkin tidak mendengar. Karena suaranya hanya seperti angin, lembut. Hanya mampu memberikan efek geli di telinga. Tapi, istrinya, tikus dengan telinga kecil, tidak akan mampu mendengarnya.
“Aku juga sudah membelikanmu beberapa unit mobil mewah. Bahkan lebih mewah dari manusia-manusia itu. Kita lebih kaya, walaupun hanya tikus. Dan ini semua aku lakukan untukmu. Sekarang, berikan aku anak. Aku ingin punya anak. Jantan atau betina sama saja, nanti akan aku ajari mereka agar cepat kaya. Manusia dan hewan, sama bodohnya. Yang pintar hanya keluarga kita.” Tetap pelan. Bahkan lebih pelan. Hingga tanpa sadar, ia ikut tertidur di samping istrinya.

Di dalam tidurnya, ia bermimpi.
Ia bertemu dengan beberapa manusia yang hendak menebang pohon di Kalimantan. Awalnya, ia tak yakin, bahwa itu adalah manusia. Ia melihat mereka lain dari manusia yang lainnya. Wajah mereka menyeringai, seperti hewan-hewan kasar di hutan.
“Jangan ditebang pohon-pohon itu! Pikirkanlah nasib kami!”
Manusia-manusia itu tidak paham bahasa tikus. Mereka tetap tidak peduli.
Tiba-tiba ia menggigit kaki salah seorang manusia. Lalu, ia lambai-lambaikan uang dengan tangannya. Manusia itu, langsung mengambil uang dari tangan Tikus. Mengamati keaslian uang. Setelah yakin, jika itu uang asli, manusia itu menendang Tikus. Tanpa memikirkan, dari mana uang itu didapat Tikus. Manusia itu benar-benar tidak peduli.
Tikus terpental jauh. Tubuhnya ringsek di antara semak belukar. Ada beberapa luka di tubuhnya, ia kesakitan. Tapi, ekspresi wajahnya bukan raut orang kesakitan, tetapi orang yang keheranan. Ia seperti bertanya-tanya.
“Suara apa itu? Seperti tangis. Tapi kenapa lirih sekali. Apa itu suara manusia perempuan? Atau manusia laki-laki yang menyesali dosanya? Atau hewan yang malang? Atau ...?”
Aku juga tidak tahu, ia mendengar apa. Sungguh, aku sebagai narator, sebagai penulis cerita ini, aku tidak mendengarnya. Dan aku juga tidak ingin tahu tentang apa yang didengarnya.
“Suara apa, ya? Hei! Siapa yang menangis? Hei!”
Ia terus mencari. Telinganya yang kecil, lebih besar dari kepunyaan istrinya, bergerak mengikuti sumber suara. Ia melangkah mengendap. Hati-hati, seperti fokus pada satu tujuan. Ia juga memperhatikan jalannya, menghindari suara lain yang dapat mengganggu suara tangis itu.
Ia mendekati pohon kecil. Berdaun hijau lebat. Pohon itu menunduk. Seperti manusia yang meringkuk, sedang menangis. Mungkin pohon itu yang menangis. Atau ... ah! Kenapa aku memikirkannya.
“Hei, Pohon! Kenapa kamu menangis?”
Tidak ada suara apa pun. Tapi, kenapa Tikus menyangka jika Pohon menangis? Aku tidak mendengar suara apa pun. Apa ini tangis yang paling tulus? Yang tidak semuanya bisa mendengar. Hanya hewan, atau tumbuhan lainnya. Mungkin saja begitu.
“Hei Pohon! Kenapa kamu menangis?” Ia ulangi pertanyaan yang sama, beberapa kali. Pohon itu, tetap diam. Tetap meringkuk.
Melihat Pohon yang hanya diam, ia teringat istrinya. Segera, ia terbangun dari mimpi.

“Sayang, aku hamil.”
“Kok bisa?”
“Ihh ... ya bisa, Pak.”
“Anak siapa?”
“Ya anakmu, Pak.”
“Hah?”
“Pokoknya sekarang aku hamil. Aku ngidam suara pohon. Suara pohon yang menangis.”
“Hah?” Ia teringat mimpinya.
“Pokoknya, kamu harus menbawaku ke tempat itu. Tempat di mana aku bisa mendengarkan pohon yang menangis.”
“Tidak bisa diganti?”
“Tidak!”
Ia terdiam. Teringat Pohon dalam mimpinya. Ia tidak menyangka, jika mimpi itu adalah isyarat bahwa istrinya hamil. Ia hanya berharap, semua ini adalah pertanda baik. Pertanda bahwa anaknya akan menjadi tikus terhebat seumur hidup. Bahkan lebih baik darinya.
“Demi kamu dan anak kita. Ayo aku antar ke tempat itu.”
Istrinya kegirangan. Mereka berjalan berdua menuju ke dalam hutan. Ke tempat di mana Tikus bertemu dengan Pohon itu, di dalam mimpinya. Ia kembali berharap, semoga mimpinya itu nyata, tetapi tidak ada manusia kejam itu. Yang menendang dan mengambil uangnya.
Mereka telah sampai di tempat itu. Tapi, tidak ada apa pun di sana. Di hutan Kalimantan, sudah ada ada pohon yang hidup, ia baru sadar. Karena ia biasanya hanya duduk di beranda rumah. Tidak pernah melihat dunia luar.
Ia juga baru sadar, jika di sini sudah tidak ada hewan lagi. Lantas, yang lain pergi ke mana? Mereka berdua, di hutan tinggal bersama siapa?
Ia juga baru sadar, jika mimpi memang hanya bunga tidur. Bukan sesuatu yang nyata. Tetapi, mengandung makna di balik kesemuannya. Ia hanya diam, terheran-heran. Sementara istrinya terus merengek.
“Aku ingin mendengar tangisan pohon yang lirih. Aku ngidam.”
“Tapi, sudah tidak ada pohon di sini.”
“Aku tidak mau tahu, pokoknya harus ada.”
“Tapi sudah tidak ada pohon!”
“Tapi aku mau! Anak kita mau! Pokoknya harus ada. Walaupun harus ke luar dari hutan ini, aku rela. Demi anak kita, Pak!”
Ia semakin heran. Anak macam apa yang dikandung istrinya, hingga istrinya ngidam yang aneh seperti itu.
Ia menuntun istrinya, berjalan tanpa tujuan yang pasti. berharap bertemu Pohon dalam mimpinya itu.

Di suatu tempat, sudah jauh dari tempat semula. Mereka berhenti. Bukan karena capek dan belum mendapati Pohon dalam mimpinya Tikus. Hanya saja, karena istrinya bilang, ia mau melahirkan. Tikus semakin bingung. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
“Aku ingin mendengar pohon yang menangis ...!”
“Tidak ada.”
“Harus ada. Ini hampir keluar, jangan sampai anak kita cacat hanya karena kamu tidak mampu memenuhi permintaan anakmu ini!”
“Tidak mungkin cacat. Aku sehat. Kamu sehat. Waktu itu, malam itu, kita berdua sehat dan hubungan kita normal. Tidak mungkin cacat!”
“Tapi aku ngidam tangisan pohon!”
“Tidak ada. Aku capek. Aku tidak peduli. Aku tidak mau menuruti perintahmu lagi. Dasar betina! Bisanya hanya menyuruh!”
“Aku istrimu! Berhak mengatur rumah tangga kita, termasuk kamu! Aaa ...!”
“Aku suami. Lebih berhak!”
“Aku ngidam tangisan pohon ...! Aaa ...!”
Hening sesaat.

Istri Tikus diam. Tidak bergerak sedikit pun, mati. Tikus diam, terheran-heran melihat sesuatu yang berada di bawah kaki istrinya. Seekor bayi tikus, anaknya. Namun, tanpa kaki, tanpa tangan, tanpa ekor, tanpa tubuh, hanya sepenggal kepala.
Tiba-tiba, Tikus mendengar suara tangis. Mirip sekali dengan suara tangis Pohon dari mimpinya. Dan kini, aku pun mendengarnya, ia tak hanya menangis, tapi sambil merengek.
“Mama ... hu-hu-hu ... Papa ... hu-hu-hu ....”

Jogja, Desember 2014

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama